-->
  • About
  • Contact
  • Sitemap
  • Indeks
  • Disclaimer
  • Buki Lawang

Lirik Lagu Karo

Download Lirik Lagu Daerah Karo Terpopuler

  • Home
  • About
  • Kontak
  • Sitemap
  • Dropdown Menu ▼
    • Sub Menu1
    • Sub Menu2
    • Sub Menu3
    • Sub Menu4
    • Sub Menu5

18 Juli 2012

Home » Artikel » Percintaan Karo Tempo Doeloe

Percintaan Karo Tempo Doeloe

  Unknown     18 Juli 2012
Percintaan masyarakat Karo tempo dulu sangat unik. Tempo dulu yang dimaksudkan disini adalah masa dimana rumah adat Karo masih ada sebelum dibumihanguskan di zaman revolusi tahun 1947. Tentu saja tidak seperti zaman sekarang yang kesemuanya begitu mudah. Gaya bercinta masyarakat Karo dahulu begitu penuh liku-liku. Segala perjuangan untuk mendapatkan jantung hati harus secara gigih dengan berbagai ketentuan adat sebagai hukum tak resmi.

Seorang pemuda yang telah dewasa disebut anak perana. Dikatakan anak perana jika ia sudah berhak mengenakan celana panjang (seluar gedang), sudah berhak tidur bersama pemuda lainnya di Jambur, sudah menjalankan sunat (kacip-kacip) dan sudah gerat-geraten (kelenjar hormon sudah ada). Sedangkan tanda-tanda seorang wanita telah dewasa dan disebut singuda-nguda apabila sudah datang bulan (ngidah bulan), sudah berhak menjadi anggota aron mbelin (sebelum dewasa biasanya ikut aron erlajar), sudah berhak mengikuti acara guro-guro aron, sudah bisa tidur bersama gadis-gadis lainnya.

Sudah menjadi adat dan kebiasaan dalam masyarakat Karo kalau di satu keluarga sudah ada anak perana atau singuda-nguda untuk secepatnya dinikahkan (erjabu). Sehingga jika si orang tua bertemu dengan anaknya tersebut maka pertanyaan yang selalu diajukan adalah kapan ‘erjabu’. Saking seringnya orang tua menanyakan pertanyaan tersebut maka biasanya si anak perana langsung pergi menghindar percakapan. Jadi ada indikasi di zaman dulu kalau anak perana dan singuda-nguda yang belum ‘erjabu’ jarang sekali berada di rumah. Paling ke rumah hanya untuk makan lalu pergi lagi agar bisa menghindari pembicaraan orang tuanya tentang ‘erjabu’ itu.

Orang-orang tua Karo mempunyai falsafah kalau anaknya belum ‘erjabu’ maka masih ada utang adat, menjadi pergunjingan di kuta bahkan dianggap aib keluarga. Jadi adat secara tidak langsung mengatakan orang tua Karo masih punya tanggung jawab selama anaknya belum dinikahkan. Kalau anak perana memang sudah berkeinginan untuk ‘empo’ (menikah untuk laki-laki) maka pertama kali ia akan melakukan “ngaras-ngaras” yaitu pergi ke kuta lain untuk mencari calon kekasihnya. Jika memang sudah ada wanita yang cocok maka si anak perana akan berusaha mengenalnya. Cara berkenalannya juga beragam ada secara bertutur, lewat teman dan lain sebagainya.

Setelah pemuda menjatuhkan pilihan pada gadis pujaannya maka dilaksanakan maka memasuki tahap naki-naki (pedekatan). Untuk saling mengungkap perasaan masing-masing mereka bertemu malam hari. Sebelum pemuda-pemudi dapat bertemu di ture (teras rumah adat), si pemuda berusaha mempengaruhi seorang ibu yang biasanya janda, dengan mempersembahkan belo sempedi agar perempuan ini bersedia menjadi perantara untuk mempertemukan dia dengan sang pujaan hati. Naki-naki dapat dilakukan oleh anak perana dari desa lain (tandang) atau dari desa yang sama dengan singuda-nguda. Jika dia berasal dari desa lain, sudah menjadi keharusan bagi anak perana itu untuk bergaul dengan anak perana desa setempat. Tujuannya, agar keamanan terjamin, dapat tidur di Jambur desa dan bisa memanfaatkan pemuda desa untuk kelancaran naki-naki yang dlakukannya.

Pertemuan paling ditunggu tentu saja di ture pada malam hari. Biasanya pertemuan itu mempergunakan bahasa Karo halus dan tinggi sekaligus untuk menunjukkan kebolehannya dalam berbahasa kiasan dan peribaratan. Untuk dapat memahirkan diri dalam sastra naki-naki ini, terkadang mereka berguru pada orang tua yang lebih berpengalaman. Sastra naki-naki disebut cakap lumat.

Sedikit contoh penggalan cakap lumat yang diambil cerita bersambung “Sibayak” karya Joey Bangun yang dimuat di tabloid Karo “Sora Mido.” :

“Enggo dekah kita la jumpa turang,” Santa Perkeleng mengawali pembicaraan. Betapa cantiknya gadis ini. Betapa aku luluh oleh daya tariknya, kata Santa Perkeleng dalam hati. Menda beru Sinulingga, wanita pujaannya itu sudah berada di hadapannya. Apakah ini mimpi, pikirnya lagi.

“Ue Mama,” Sahut Menda. Ia terlihat malu. Bagaimana tidak. Anak perana yang paling dipuja seluruh gadis di seluruh Tanah Karo berada di dekatnya.

“Turang, ma banci nge kita si oraten tutur lebe?” tanya Santa malu-malu. Dia tidak tahu bagaimana lagi harus memulai pembicaraan.

“Banci mama,” jawab Menda tak sanggup menatap wajah laki-laki dihadapannya.

“Beru apai dage kam?”

“Bagi sikukataken sanga kerja tahun mbarenda Mama. Aku beru Karo-karo Sinulingga.”

“Bere-berena ?”

“Bere Sembiring.”

“Adi bage erkai dage orat tuturta?”

“Kai kin mergandu?”

“Mergangku Bangun Tambar Malem.”

“Bere-berena?”

“Bere-bere Karo.”

“Adi bage erkai dage orat tuturta?”

“Adi la kam mehangke rimpal kuakap kita,” jawab Santa Perkeleng tersenyum pasti. Menda membalas dengan senyuman maha indah seolah tak satupun para dewi kahyangan yang sanggup mengalahkan peciremna.

“Engkai maka mehangke adi bage kin seharusna,” jawab Menda pula. Jawaban ini sungguh cipratkan kobaran semangat yang meledak tak tertahan dalam pusuh Santa.

“Piga kam sembuyak agi?” tanya Santa Perkeleng.

“Telu pe empatken ras kam,” sahut Menda malu-malu.

“Piga kam impal kami sidiberu?”

“Sada aku ngenca.”

“Sintua, sintengah, tah singuda kam ?”

“Aku sintua.”

“Kuh denga kin orang tuanta?” kata Santa Perkeleng. Matanya tidak lepas dari wajah manis Menda. Seolah dirinya tidak sudi melepas sedetikpun kesempatan paling berharga yang pernah dialaminya ini.

“Kuh nge orang tuanta tapi mesera-mesera kal,” jawab Menda. Sungguh ia tidak berani menatap lelaki yang dihadapannya ini. “Kam kaka piga kam sembuyak?”.

“Dua pe teluken ras kam.”

“Kam sintua tah singuda?”.

“Aku sintua e maka erkaka tua kam man bangku,” jawab Santa Perkeleng tersenyum.

“Ue kaka tua,” Menda membalas dengan menunduk tersenyum malu.

“Aku pe agi enggo bagenda sibetehen orat tututr kita mis kal meriah ukurku, e maka adi reh pagi aku ku kutandu, ula kam melewas man tandangen,” kata Santa.

“Labo kaka tua rehlah kam,” sahut Menda pasti. Jawaban Menda itu menambah kepastian pada Santa sungguh dia tidak bertepuk sebelah tangan.

“Adi bage mulih lebe aku agi. Matawari pe enggo ncidahken lasna,” sahut Santa Perkeleng mohon diri. Dia berdiri dan mulai membereskan barang-barangnya.

“Anjar-anjar kam kaka. Ertoto aku gelah seh kam ku kuta,” Menda berdiri dan membantu Santa membereskan barangnya. Kemudian dia menggulung tikar. Santa Perkeleng turun dengan tangga ture. Sampai di bawah dia berkata,” Bujur kerina turang. Lawes aku.”

Walaupun sepintas lalu pemuda-pemudi ini sedang diamuk asmara ini terlihat cukup bebas berduaan di ture pada malam hari. Adakalanya hingga pukul 3 atau 4 pagi, namun tidak boleh dilupakan bahwa dari dalam rumah keduanya tetap diawasi oleh orang tua si gadis. Agar jangan sempat terjadi hal-hal yang melanggar susila. Dialog mereka juga tetap diikuti dari dalam rumah oleh si orang tua. Tujuannya agar si gadis dapat dididik dalam melawan cara bicara si pemuda.

Pertemuan naki-naki ini memakan waktu cukup lama bahkan sampai bertahun-tahun. Pada masa inilah keduanya saling mengenal secara pribadi tentang sifat-sifat dan karakter masing-masing. Untuk lebih memikat hati si gadis pilihannya sekaligus menarik simpati pihak si gadis, maka waktu tanaman padi orang tua si gadis sedang mulai berbulir (rumpah), si anak perana melakukan pekerjaan ngkalaki di juma calon mamana (orang tua si gadis). Ngkalaki artinya membuat orang-orangan untuk menakut-nakuti burung di ladang termasuk pantar/batar-batar, belobo gurung-gurung kuda atau siambir-ambiri.

Pekerjaan ini dilakukan pada malam hari dan di kala terang bulan. Bisa memakan waktu satu malam. Jika demikian, si anak perana akan meminta bantuan tenaga dari teman-teman anak perana lainnya. Kalau perlu juga bantuan dari anak berunya. Pagi harinya pada waktu si gadis atau ibunya bermaksud menghalau burung di ladang, dia akan terkejut melihat ladangnya sudah selesai ikalaki. Hal ini akan diselidiki orang tua si gadis siapa gerangan yang melakukan pekerjaan itu. Ketika mereka mengetahui siapa yang melakukan itu tentulah si anak perana menjadi pertimbangan.

Selama proses naki-naki ini berlangsung, bisa juga muncul saingan atau timbang kayo. Suatu hal yang lumrah terjadi sepanjang masa, terjadi kompetisi antara dua atau lebih anak perana. Baik kompetisi sehat maupun tidak sehat. Setelah keduanya saling mengenal betul dalam sifat, karakter, keturunan dan akhirnya sampailah keduanya pada satu kesimpulan untuk membentuk rumah tangga melalui perkawinan.

Percintaan Karo tempo dulu memang unik. Berhubung transportasi nyaris tidak ada, perjuangan berjalan ke kuta sang pujaan hati terkadang memakan waktu berhari-hari. Perjuangan ini pula yang menghantarkan masyarakat Karo pada keagungan cinta dalam tataran adat sangkep nggeluh. Sehingga di zaman dahulu jarang sekali terjadi perceraian.

Percintaan Karo tempo dulu kiranya bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita dalam bertutur dan menghargai perjuangan cinta yang tidak ternilai dalam hidup.
By Unknown at 14.39
Labels: Artikel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Posts

Memuat...

Lirik Terpopuler

  • Rimta Mariani Br Ginting - Merangap
  • Cawir Metua - Usman Ginting
  • Marga-Marga Suku Batak
  • Bombang - Eso Pandia
  • LIRYC LAGU KARO KUBABA PENGINDO
  • Liryc Lagu Karo Belo La Ertangke
  • PEE GBKP SUPLEMEN JILID III
  • Lagu Karo Putus Hungungen - Rimta Mariani Ginting
  • Lagu Karo Usman Ginting - Uis Male
  • Ertutur

Total Tayangan Halaman

Terjemahkan

Labels

0.Nonstop 00.Onestop 000. Lagu Karo Streaming 1.Lagu Karo 2.Download Lagu 3.Video Lagu Karo 4.Lirik Lagu 5.Kreasi Lagu 5.Video Karo 6.Campur Lagu Karo 7.AutoPlay 8.Perkolong Abdul Ferly Sitepu Aci Br Sembiring Agama Pemena Agus Ninto Tarigan Agustina Br Surbakti Agustina Br Tarigan Agustina Sembiring Aktifitas Orang Karo Alan Dani Sitepu Alan Dhany Sitepu Alasen Barus Album Mory band Andi Rallo Ginting Anita Br Sembiring Anta Prima Ginting Ardi Purba Artikel Artikel Lama Artikel Penting Asmahera Sinulingga Bahagia Surbakti bani subarja bank mandiri bank pemerintah belajar cakap Karo Belo La Ertangke berita Bombang budaya Karo BUMN cakap Karo cerita rakyat Cerpen (turgen) Charles Simbolon Darius Sembiring Datuk Muda Barus Djaga Depari Dolatta Perangin-Angin Download download lagu karo Eddy Tarigan Efry Ejayani Br Tarigan Egi Suranta Ginting Egy Suranta Ginting Emelia Conthesa Erna Br Ginting ertutur Erwina Br Bangun Erwina Hani Bangun Eso Pandia Fajar Pinem Fakta Ginting film film Karo Fitri Br Sinuraya Foto-Foto Frans Uluna Ginting Frans Xaverius Tarigan Games gereja Gerga Group Grup Endakustik Handay Tarigan Harto Tarigan hasil cakap-cakap Hormat Barus Humor Ica Br Ginting idolaku iklan image jamburta Jhon Lewi Keliat Jhon Pradep Tarigan John Lewi Keliat Joket Penceng Jovri Tarigan Jujuren Sinulingga jusuf sitepu Kampung Karo Koleksi Vokal Kompor Kitik kontes Kontes blog Karo 2013 Kumpulan Lagu Karo La terlarang Lagu Karo Lagu Karo Terbaru lagu perjuangan Langsat Tarigan Laura Br Sembiring lelucon lirik lagu Lirik Lagu Karo lirycs Lois Tarigan Luther Tarigan Magdalena Br Barus Maharahi Br Tarigan Maharahi Br Tarigan. Maharani Br Tarigan mandiri kartu kredit mandiri kpr mandiri kta mandiri tabungan mandiri tabungan rencana Mawar Br Ginting Medan Sekitarnya Melita Br Milala Merangap Monica Br Sembiring mp3 karo mp3 karo terbaru musik Musik Karo Neni Olivia Br Tarigan Netty Vera Bangun Netty Vera Br Bangun Nonstop Lagu karo Nuri Br Ginting ONLINE TV Opini Orang Karo Panorama Karo Pasu Br karo Pelawak Cot Dogol pemena Penelitian ilmiah Perlengkapan Karo Pertanian Kini Pijerta Sinulingga player playlist mp3 karo Ramona Purba Ramses Sembiring Rimta Mariani Br Ginting Rimta mariani Ginting Rini Br Surbakti Robby Ginting Rosdiana Ginting Sabarta Sitepu Samuel Sembiring Santi Br Ginting Sastrawan Tarigan Sejarah Stevenson Ginting Sudarto Sitepu survey Susi Br Surbakti tambak ratah Tesalonika Br Barus Teshalonika Barus Tio Fanta Pinem Tokoh dari Karo Turi-turin (cerita) Tutorial Uchi Br Tarigan Usman Ginting Veronika Br Bangun Veronika Br Ginting video Video Lagu widgate Wilayah wisata karo

About

Lirik Lagu Karo Terbaru - Temukan Lirik Lagu Karo Terbaru 2022

Web Links

Follow by Email

Subsribe to get post update from this blog in your email inbox.

Copyright © Lirik Lagu Karo. All rights reserved. Template by Romeltea Media